10 Cara Menghitung Fidyah Puasa Menurut Fiqih Syafii (Lengkap dengan Dalil dan Contohnya)

Panduan lengkap 10 cara menghitung fidyah puasa menurut fiqih Syafii beserta dalil Al-Qur’an dan penjelasan ulama. Pelajari jumlah fidyah, contoh.

(Ilustrasi panduan menghitung fidyah puasa menurut fiqih Syafii dengan contoh)
PortalJatim24.com - Pendidikan - Memahami 10 cara menghitung fidyah puasa menurut fiqih Syafii sangat penting bagi umat Islam yang tidak dapat melaksanakan puasa Ramadan karena alasan syar’i seperti usia lanjut, sakit menahun, atau kondisi tertentu.

Dalam mazhab Syafi’i, fidyah merupakan bentuk pengganti puasa dengan memberikan makanan kepada fakir miskin. Ketentuan ini memiliki dasar kuat dalam Al-Qur’an dan penjelasan para ulama fiqih.

Allah SWT berfirman:

“Dan bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin.”

(QS. Al-Baqarah: 184)

Ayat ini menjadi dasar utama dalam hukum fidyah bagi orang yang tidak mampu berpuasa.

Secara umum, fidyah diberikan dalam bentuk makanan pokok kepada fakir miskin untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan. Namun dalam praktiknya, masih banyak umat Islam yang belum memahami cara menghitungnya secara benar.

Artikel ini akan membahas secara lengkap:

  • Pengertian fidyah menurut mazhab Syafi’i
  • Dalil Al-Qur’an dan hadis
  • Cara menghitung fidyah dengan contoh praktis
  • Siapa saja yang wajib membayar fidyah

Dengan memahami panduan ini, diharapkan umat Islam dapat menunaikan kewajiban fidyah dengan benar dan sesuai syariat.

Baca Juga: 5 Hukum Menjamak Shalat Karena Kerja Shift Malam Perspektif NU: Dalil Lengkap Fiqih Syafi’i.

Pengertian Fidyah dalam Mazhab Syafi’i

Secara bahasa, fidyah berasal dari kata Arab فدية yang berarti tebusan atau pengganti.

Dalam terminologi fiqih, fidyah adalah:

  • Memberikan makanan kepada fakir miskin sebagai pengganti puasa yang tidak mampu dilakukan.
  • Dalam kitab fiqih mazhab Syafi’i dijelaskan bahwa ukuran fidyah adalah satu mud makanan pokok untuk setiap hari puasa.
  • Menurut ulama Syafi’iyah, satu mud setara dengan sekitar 675 gram makanan pokok seperti beras, gandum, atau kurma.

Imam An-Nawawi menjelaskan dalam kitab fiqihnya:

“Fidyah bagi orang yang tidak mampu berpuasa adalah memberi makan satu orang miskin untuk setiap hari.”

(Imam Nawawi, Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab)

Dengan demikian, fidyah bukan sekadar sedekah, tetapi kewajiban syariat yang menggantikan puasa yang tidak bisa dilakukan.

Dalil Kewajiban Fidyah dalam Islam

Selain ayat Al-Qur’an, kewajiban fidyah juga dijelaskan oleh para sahabat Nabi.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata:

“Ayat ini tidak dihapus, tetapi berlaku bagi orang tua renta yang tidak mampu berpuasa. Mereka memberi makan satu orang miskin setiap hari.”

(HR. Bukhari)

Penjelasan ini menunjukkan bahwa fidyah adalah solusi syariat bagi mereka yang tidak mampu menjalankan puasa secara fisik.

Mengapa Cara Menghitung Fidyah Banyak Dicari?

Ada beberapa alasan mengapa pembahasan mengenai cara menghitung fidyah menjadi topik yang sering dicari umat Islam.

1. Banyak orang tua tidak mampu berpuasa

Seiring bertambahnya usia, kemampuan fisik menurun sehingga sebagian orang tua tidak mampu menjalankan puasa Ramadan.

2. Kesadaran fiqih semakin meningkat

Semakin banyak umat Islam yang ingin memastikan ibadahnya sesuai tuntunan syariat.

3. Banyak kasus ibu hamil dan menyusui

Dalam fiqih Syafi’i, kondisi ini memiliki aturan khusus yang melibatkan fidyah

4. Kemudahan pembayaran fidyah modern

Saat ini fidyah bisa disalurkan melalui lembaga sosial, sehingga orang ingin mengetahui jumlah yang tepat.

Ciri Perhitungan Fidyah yang Benar Menurut Fiqih Syafi’i

Agar fidyah sah menurut syariat, perhitungannya harus memenuhi beberapa ketentuan berikut.

1. Berdasarkan jumlah hari puasa

Setiap hari puasa yang ditinggalkan memiliki kewajiban fidyah tersendiri.

2. Menggunakan ukuran makanan pokok

Standar yang digunakan adalah 1 mud makanan pokok.

3. Diberikan kepada fakir miskin

Bukan kepada orang mampu atau keluarga yang berkecukupan.

4. Boleh diberikan dalam bentuk makanan

Bisa berupa beras atau makanan siap saji.

5. Boleh dibayarkan sekaligus

Tidak harus diberikan setiap hari.

10 Cara Menghitung Fidyah Puasa Menurut Fiqih Syafii

Berikut ini adalah cara paling praktis dan umum digunakan dalam menghitung fidyah.

1. Menghitung Berdasarkan Jumlah Hari Puasa

Metode paling dasar adalah menghitung jumlah hari puasa yang ditinggalkan.

Rumusnya:

Jumlah hari puasa × 1 mud makanan

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 10 hari

Perhitungannya:

10 × 1 mud = 10 mud

Jika 1 mud sekitar 675 gram maka:

10 × 675 gram = 6,75 kg beras

Dalil yang menjadi dasar metode ini adalah QS Al-Baqarah ayat 184 yang menyebutkan kewajiban memberi makan satu orang miskin.

2. Menghitung Fidyah Menggunakan Berat Beras

Di Indonesia, fidyah biasanya diberikan dalam bentuk beras.

Standar yang digunakan banyak ulama adalah sekitar 0,6 hingga 0,7 kg beras per hari.

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 15 hari

Perhitungan:

15 × 0,7 kg = 10,5 kg beras

3. Menghitung Fidyah dalam Bentuk Makanan Siap Saji

Fidyah juga boleh diberikan dalam bentuk makanan siap makan.

Misalnya:

  • Nasi dan lauk
  • Paket makanan sederhana

Rumusnya:

1 hari puasa = 1 porsi makanan untuk fakir miskin.

Dalilnya merujuk pada makna ayat Al-Qur’an yang menyebut memberi makan orang miskin.

4. Menghitung Fidyah dengan Nilai Uang

Sebagian ulama membolehkan fidyah diberikan dalam bentuk uang yang setara dengan makanan.

Misalnya:

Harga satu porsi makanan = Rp15.000

Puasa yang ditinggalkan = 10 hari

Perhitungan:

10 × Rp15.000 = Rp150.000

5. Menghitung Fidyah untuk Orang Tua Renta

Orang tua yang tidak mampu berpuasa wajib membayar fidyah untuk setiap hari Ramadan.

Dalilnya dijelaskan oleh Ibnu Abbas:

“Orang tua yang tidak mampu berpuasa memberi makan satu orang miskin setiap hari.”

(HR. Bukhari)

Jika tidak berpuasa selama 30 hari:

30 × 0,7 kg = 21 kg beras

6. Menghitung Fidyah untuk Orang Sakit Kronis

Jika seseorang memiliki penyakit permanen dan tidak mungkin sembuh, maka ia mengganti puasa dengan fidyah.

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 30 hari

Perhitungan:

30 mud makanan atau sekitar 21 kg beras.

7. Menghitung Fidyah bagi Ibu Hamil

Dalam mazhab Syafi’i, jika ibu hamil tidak berpuasa karena khawatir terhadap bayi, maka ia wajib:

  • Qadha puasa
  • Membayar fidyah

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 7 hari

Perhitungan:

7 × 0,7 kg = 4,9 kg beras

8. Menghitung Fidyah bagi Ibu Menyusui

Aturan ini sama dengan ibu hamil jika kekhawatiran terhadap bayi menjadi alasan utama tidak berpuasa.

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 12 hari

Perhitungan:

12 × 0,7 kg = 8,4 kg beras

9. Menghitung Fidyah karena Menunda Qadha Puasa

Dalam mazhab Syafi’i, menunda qadha hingga Ramadan berikutnya tanpa uzur menyebabkan kewajiban tambahan fidyah.

Imam Nawawi menjelaskan:

“Jika seseorang menunda qadha hingga Ramadan berikutnya tanpa uzur, maka wajib baginya qadha dan fidyah.”

(Al-Majmu’)

Contoh:

Puasa yang belum diqadha = 5 hari

Perhitungan:

5 × 0,7 kg = 3,5 kg beras

10. Menghitung Fidyah Sekaligus untuk Banyak Hari

Fidyah boleh diberikan sekaligus kepada beberapa orang miskin.

Contoh:

Puasa yang ditinggalkan = 30 hari

Pilihan pembagian:

  • 30 orang miskin × 1 mud
  • atau
  • 10 orang miskin × 3 mud

Yang penting totalnya tetap 30 mud makanan.

Siapa Saja yang Wajib Membayar Fidyah?

Dalam mazhab Syafi’i, fidyah berlaku bagi beberapa kategori berikut.

1.Wajib fidyah saja

  • Orang tua renta
  • Orang sakit menahun
  • Wajib qadha dan fidyah
  • Ibu hamil yang khawatir terhadap bayi
  • Ibu menyusui yang khawatir terhadap bayi
  • Orang yang menunda qadha hingga Ramadan berikutnya

2.Wajib qadha saja

  • Musafir
  • Orang sakit sementara
  • Wanita haid

Hikmah dan Manfaat Membayar Fidyah

Syariat fidyah memiliki hikmah yang sangat besar bagi kehidupan sosial umat Islam.

1. Membantu fakir miskin

Makanan yang diberikan dapat membantu mereka yang membutuhkan.

2. Menjaga tanggung jawab ibadah

Walau tidak berpuasa, kewajiban tetap ditunaikan dengan cara lain.

3. Menumbuhkan solidaritas sosial

Fidyah memperkuat rasa empati kepada sesama.

4. Mengingatkan pentingnya berbagi

Ibadah tidak hanya bersifat spiritual tetapi juga sosial.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Fidyah Puasa

Berapa ukuran fidyah menurut mazhab Syafi’i?

Ukuran fidyah adalah 1 mud makanan pokok sekitar 675 gram beras untuk setiap hari puasa yang ditinggalkan.

Apakah fidyah boleh dibayar dengan uang?

Boleh jika nilainya setara dengan makanan pokok atau satu porsi makanan bagi fakir miskin.

Kapan fidyah harus dibayar?

Fidyah boleh dibayarkan selama Ramadan atau setelahnya.

Apakah fidyah boleh diberikan kepada satu orang saja?

Boleh selama jumlah makanan yang diberikan setara dengan total fidyah yang wajib dibayar.

Apakah fidyah menggugurkan qadha puasa?

Tidak selalu. Dalam beberapa kasus seperti ibu hamil, fidyah tetap disertai kewajiban qadha.

Kesimpulan

Memahami 10 cara menghitung fidyah puasa menurut fiqih Syafii sangat penting agar ibadah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat.

Dalam mazhab Syafi’i, fidyah dihitung berdasarkan:

  • Jumlah hari puasa yang ditinggalkan
  • Ukuran satu mud makanan untuk setiap hari

Fidyah dapat diberikan dalam bentuk:

  • Makanan pokok seperti beras
  • Makanan siap saji
  • Uang yang setara dengan makanan

Dengan mengetahui cara perhitungan yang benar serta dalil yang mendasarinya, umat Islam dapat menunaikan kewajiban fidyah dengan lebih yakin dan tenang.

Jika Anda memiliki tanggungan fidyah, segera hitung dan tunaikan agar ibadah menjadi lebih sempurna.

Referensi

Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184

Hadis riwayat Imam Bukhari tentang tafsir Ibnu Abbas mengenai fidyah

Imam Nawawi - Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab

Imam An-Nawawi - Minhajut Thalibin

Wahbah Az-Zuhaili - Fiqh Islam wa Adillatuhu

Sayyid Sabiq - Fiqh Sunnah

Kementerian Agama Republik Indonesia - Panduan Fidyah Puasa

Publisher/Penulis:

[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]