Merdeka 100% ala Tan Malaka: Jejak Pemikiran di Balik Kemerdekaan Indonesia, Sejarah yang Jarang Dibongkar
![]() |
(Kartun Tan Malaka Merdeka 100% sejarah kemerdekaan Indonesia) |
Ia dikenal sebagai “Bapak Republik” oleh sebagian sejarawan karena jauh sebelum proklamasi 17 Agustus 1945, ia sudah menyerukan bahwa Indonesia harus berdiri sebagai “Republik 100% Merdeka”. Pandangan ini ia tuangkan dalam karya monumental Naar de Republiek Indonesia (1925).
Sayangnya, nama Tan Malaka kerap dikaburkan atau dilekatkan dengan stigma “komunis”. Padahal, jika diteliti lebih dalam, gagasan dan perjuangannya justru berangkat dari semangat kebangsaan yang tulus, anti-penjajahan, dan berpihak pada rakyat kecil. Artikel ini akan membongkar secara detail gagasan Tan Malaka, hubungannya dengan tokoh nasional lain, serta makna merdeka 100% yang ia gaungkan.
Siapa Tan Malaka?
Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatra Barat pada 2 Juni 1897. Nama aslinya adalah Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia berasal dari keluarga Minangkabau yang taat adat dan Islam. Sejak kecil, ia dikenal cerdas, kritis, dan tekun membaca.
Setelah menempuh pendidikan di Kweekschool Bukittinggi, ia mendapat kesempatan belajar ke Belanda. Di sinilah wawasan internasionalnya terbentuk. Ia tidak hanya mengenal ilmu pendidikan modern, tetapi juga akrab dengan gagasan sosialisme, marxisme, hingga teori kebangsaan Eropa. Namun, berbeda dari banyak tokoh kiri lainnya, Tan Malaka menolak tunduk sepenuhnya pada komunisme internasional.
Menurut Harry Poeze, peneliti asal Belanda yang menulis biografi tiga jilid tentang Tan Malaka, tokoh ini sebenarnya lebih tepat disebut nasionalis revolusioner daripada “komunis murni”. Baginya, komunisme hanyalah alat strategi konsolidasi rakyat tertindas yang senasib dijajah, bukan tujuan akhir perjuangan. Tujuan akhirnya tetap satu: Republik Indonesia Merdeka 100%.
Tan Malaka Bukan Komunis Sejati
Salah satu miskonsepsi besar dalam sejarah adalah melekatkan Tan Malaka dengan komunisme internasional. Memang benar ia sempat aktif dalam Partai Komunis Indonesia (PKI) awal dekade 1920-an. Namun, keterlibatannya bersifat strategis.
Ia melihat bahwa komunisme memiliki daya tarik untuk menghimpun rakyat kecil, buruh, dan petani melawan kolonialisme. Akan tetapi, Tan Malaka menolak garis politik Moskow yang ingin menjadikan Indonesia hanya sebagai pion dalam perjuangan global.
Dalam Naar de Republiek Indonesia, ia menulis bahwa kemerdekaan Indonesia tidak bisa digantungkan pada Uni Soviet atau negara lain. Indonesia harus mandiri, memimpin revolusinya sendiri, dan tidak boleh menjadi boneka kekuatan asing.
Karena sikap inilah, Tan Malaka justru berkonflik dengan banyak pemimpin PKI saat itu, seperti Musso dan Alimin. Ia bahkan dipecat dari partai karena menolak instruksi pemberontakan 1926–1927 yang menurutnya tergesa-gesa dan tidak realistis.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Tan Malaka sebenarnya bukan komunis dogmatis, melainkan nasionalis radikal yang menggunakan strategi internasional hanya sejauh itu menguntungkan perjuangan Indonesia.
Gagasan Republik 100% Merdeka
-Tan Malaka menekankan bahwa kemerdekaan harus 100%, bukan setengah-setengah. Maksudnya:
-Indonesia tidak boleh hanya memperoleh status dominion atau semi-kemerdekaan di bawah Belanda.
-Tidak ada kompromi politik yang melemahkan kedaulatan rakyat.
-Kemerdekaan harus mencakup aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Dalam bukunya Naar de Republiek Indonesia, ia menulis:
"Tidak ada yang lebih berharga bagi suatu bangsa selain kemerdekaan 100%. Tanpanya, rakyat hanyalah budak dengan rantai yang lebih panjang."
Makna merdeka 100% ini relevan hingga hari ini. Sebab, meskipun Indonesia secara politik merdeka sejak 1945, banyak aspek kedaulatan ekonomi dan budaya masih terikat pada kekuatan asing. Tan Malaka sudah jauh hari mengingatkan bahaya “merdeka setengah hati”.
Pemikiran dalam Buku-Buku Tan Malaka
✔Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)
Buku ini menjadi fondasi pemikiran Tan Malaka. Ditulis pada 1925, jauh sebelum Soekarno menulis Indonesia Menggugat, ia sudah merumuskan gagasan Republik. Dalam buku ini, ia menolak kompromi dengan Belanda dan menegaskan bahwa hanya republik penuh yang menjamin martabat bangsa.
✔Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika)
Karya ini menunjukkan betapa luas wawasan Tan Malaka. Ia mencoba memperkenalkan cara berpikir ilmiah bagi bangsa Indonesia, menggantikan tahayul atau dogma buta. Madilog bukan hanya buku filsafat, tetapi juga panduan praktis untuk membentuk pola pikir kritis bangsa.
✔Gerpolek (Gerilya, Politik, Ekonomi)
Ditulis pada masa revolusi fisik, buku ini menjadi panduan strategis perjuangan. Tan Malaka menegaskan bahwa revolusi harus menyatukan tiga kekuatan: gerilya, politik, dan ekonomi. Menurutnya, tanpa landasan ekonomi rakyat, perjuangan bersenjata tidak akan bertahan lama.
✔Dari Penjara ke Penjara
Serangkaian memoar perjuangannya di penjara kolonial. Buku ini memperlihatkan semangat juang yang tidak pernah padam meskipun berkali-kali ditangkap dan diasingkan.
Pandangan Tokoh Nasional tentang Tan Malaka
Jenderal Sudirman
Sudirman dikenal sangat menghormati Tan Malaka. Dalam beberapa kesempatan, ia menyebut Tan Malaka sebagai pejuang yang konsisten memperjuangkan rakyat kecil. Bahkan, ada catatan bahwa Sudirman pernah menyatakan dukungan terhadap gerakan Tan Malaka ketika terjadi perdebatan arah revolusi pada 1946.
Mohammad Yamin
Yamin memandang Tan Malaka sebagai pemikir yang melampaui zamannya. Menurutnya, gagasan Tan Malaka tentang Republik jauh lebih maju dibanding banyak tokoh pergerakan lain pada 1920-an. Yamin menyebut Tan Malaka sebagai “pemikir bangsa yang seharusnya mendapat tempat sejajar dengan Soekarno dan Hatta”.
Jenderal A.H. Nasution
Nasution menilai Tan Malaka sebagai tokoh yang memiliki wawasan militer-politik yang tajam. Melalui Gerpolek, Tan Malaka menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang ideolog, tetapi juga strateg revolusi. Nasution mengakui bahwa beberapa strategi gerilya rakyat yang ia kembangkan sejalan dengan pemikiran Tan Malaka.
Kontroversi dan Akhir Kehidupan
Sayangnya, perjalanan Tan Malaka berakhir tragis. Pada 21 Februari 1949, ia ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan Divisi Siliwangi di Kediri, Jawa Timur. Hingga kini, perintah eksekusi tersebut masih menjadi perdebatan.
Banyak sejarawan menilai bahwa kematiannya adalah hasil intrik politik internal, karena Tan Malaka dianggap “terlalu berbahaya” bagi kelompok elit yang ingin kompromi dengan Belanda. Padahal, ia baru saja mendirikan Partai Murba sebagai wadah perjuangan rakyat.
Relevansi Gagasan Tan Malaka Hari Ini
Lebih dari tujuh dekade setelah proklamasi, gagasan Tan Malaka tetap relevan:
-Indonesia harus merdeka sepenuhnya dari ketergantungan ekonomi pada asing.
-Pendidikan kritis ala Madilog sangat diperlukan di tengah maraknya hoaks dan budaya instan.
-Strategi Gerpolek mengajarkan pentingnya sinergi politik, ekonomi, dan militer untuk mempertahankan kedaulatan.
Semangat merdeka 100% adalah pengingat bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal simbol, tetapi soal kesejahteraan rakyat.
Solusi dan Pelajaran bagi Generasi Muda
Menggali Sejarah Secara Jujur
Generasi muda harus berani membaca sejarah dari berbagai sumber, tidak hanya dari versi resmi negara. Tan Malaka adalah contoh tokoh yang kerap disisihkan karena dianggap tidak sesuai arus utama.
Membaca Karya-Karya Asli
Buku-buku Tan Malaka seperti Madilog dan Naar de Republiek Indonesia harus dipelajari kembali. Dari situ kita bisa memahami cara berpikir kritis yang relevan hingga hari ini.
Meneladani Konsistensi
Meski berkali-kali ditangkap, diasingkan, bahkan dibunuh, Tan Malaka tidak pernah berhenti memperjuangkan rakyat. Konsistensi ini menjadi teladan moral bagi bangsa.
Menerapkan Makna Merdeka 100%
Indonesia harus berani menentukan jalannya sendiri di era globalisasi, tidak hanya mengikuti kepentingan asing.
Kesimpulan: Makna Kemerdekaan 100% Tan Malaka
Tan Malaka adalah tokoh yang berpikir jauh melampaui zamannya. Ia bukan sekadar aktivis, melainkan arsitek intelektual republik yang menuntut Indonesia merdeka 100% tanpa kompromi.
Stigma “komunis” yang melekat padanya sejatinya tidak tepat. Ia hanyalah menggunakan strategi politik global untuk menghimpun kekuatan rakyat tertindas. Tujuan akhirnya tetap satu: Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil, dan makmur.
Sejarah mencatat bahwa gagasan Tan Malaka tentang Republik 100% Merdeka adalah warisan berharga yang harus terus dipelajari. Dalam konteks hari ini, gagasan itu adalah pengingat bahwa kemerdekaan sejati hanya bermakna jika rakyat berdaulat penuh atas politik, ekonomi, dan budayanya.
Publisher:
[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]
Daftar Referensi
Tan Malaka, Kepada Republik Indonesia , 1925.
Tan Malaka, Madilog, 1943.
Tan Malaka, Gerpolek, 1948.
Tan Malaka, Dari Penjara ke Penjara, 1948.
Harry Poeze, Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia, KITLV Leiden.
Mohammad Yamin, Naskah Persiapan UUD 1945 .
A.H. Nasution, Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia.
Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia.