Putra Ali Khamenei Terpilih Menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Usai Majelis Ahli Gelar Rapat Tertutup

Putra Ali Khamenei, Mojtaba, dilaporkan terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran setelah Majelis Ahli gelar rapat tertutup, dalam transisi kekuasaan.

(Ilustrasi putra Ali Khamenei dengan latar bendera Iran usai Majelis Ahli gelar rapat Tertutup)
PortalJatim24.com - Berita Terkini - Perkembangan politik besar mengguncang Republik Islam Iran. Majelis Ahli Iran dilaporkan telah memilih Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, menggantikan mendiang Ayatollah Ali Khamenei yang wafat dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Informasi ini pertama kali mencuat melalui laporan sejumlah media internasional dan media oposisi Iran, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari pemerintah Iran.

Baca Berita Lainnya: MUI Desak RI Keluar dari BoP Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Muhammadiyah Minta PBB Bertindak Tegas

Majelis Ahli Gelar Rapat Tertutup, Mojtaba Terpilih

Menurut berbagai laporan, termasuk yang dikutip dari media internasional, pemilihan dilakukan oleh Majelis Ahli Iran dalam rapat tertutup pada awal Maret 2026.

Majelis Ahli Iran merupakan badan beranggotakan 88 ulama senior yang memiliki kewenangan konstitusional untuk menunjuk dan memberhentikan Pemimpin Tertinggi Iran.

Proses suksesi dilaporkan berlangsung dalam situasi penuh tekanan dan kekhawatiran keamanan. Bahkan, pertemuan Majelis Ahli disebut sempat dilakukan secara virtual setelah lokasi rapat di kota Qom dikabarkan menjadi sasaran serangan Israel, meski gedung tersebut dalam keadaan kosong.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba tidak lepas dari dinamika internal kekuasaan, termasuk dugaan pengaruh kuat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), aktor militer dan politik paling berpengaruh di Iran.

Siapa Mojtaba Khamenei?

Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran. Ia merupakan putra kedua dari Ali Khamenei yang memimpin Iran sejak 1989 hingga wafatnya pada 2026.

Dididik di seminari Qom pusat pendidikan agama Syiah paling penting di Iran Mojtaba dikenal sebagai ulama yang memiliki kedekatan erat dengan struktur kekuasaan negara, terutama dengan IRGC.

Meski jarang tampil di hadapan publik dan tidak pernah memegang jabatan resmi di pemerintahan, sejumlah laporan menyebut perannya cukup signifikan di balik layar, antara lain:

  • Mendukung kandidat presiden yang berpihak pada garis konservatif rezim, terutama pada pemilu 2005 dan 2009.
  • Dikaitkan dengan penanganan protes pasca pemilu 2009 yang memicu gelombang demonstrasi besar.
  • Memiliki hubungan strategis dengan elite militer dan keamanan Iran.

Mojtaba juga pernah dikenai sanksi oleh pemerintah Amerika Serikat karena dinilai mewakili dan memperkuat struktur kekuasaan rezim Iran.

Baca Juga: Siapa Ayatollah Ali Khamenei? Pimpinan Tertinggi Iran yang Gugur Atas Serangan Gabungan AS dan Israel.

Proses Suksesi dan Dasar Konstitusional

Mengutip berbagai sumber, pemimpin tertinggi Iran tidak dipilih melalui pemilu langsung oleh rakyat. Proses tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan Majelis Ahli.

Anggota Majelis Ahli sendiri dipilih publik setiap delapan tahun, namun kandidatnya harus lebih dulu lolos seleksi dan persetujuan dari Dewan Penjaga lembaga yang sebagian anggotanya ditunjuk langsung oleh Pemimpin Tertinggi.

Sesuai konstitusi Iran, kandidat Pemimpin Tertinggi harus:

  • Seorang ahli hukum Islam Syiah senior (mujtahid),
  • Memiliki kapasitas kepemimpinan politik,
  • Menunjukkan keberanian, ketegasan, dan kemampuan administratif.

Sebelum ini, Iran baru mengalami satu kali transisi kekuasaan di posisi tersebut, yakni pada 1989 ketika Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat dan digantikan oleh Ali Khamenei.

Kandidat Lain dan Dinamika Internal

Dalam proses pemilihan kali ini, sejumlah nama lain juga sempat mencuat sebagai kandidat, termasuk:

Alireza Arafi, ulama dan ahli hukum yang masuk dalam dewan transisi tiga orang pasca wafatnya Ali Khamenei.

Seyed Hassan Khomeini, cucu pendiri Revolusi Islam, Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang dikenal lebih moderat dan dekat dengan faksi reformis.

Namun, Mojtaba dinilai memiliki karakter tegas yang dianggap sesuai untuk memimpin Iran di tengah eskalasi konflik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga: Tragedi di Kampus UIN Suska Riau:Rektorat dan Polisi Bertindak Tegas,Pelaku Diduga Sudah Merencanakan Aksi

Tantangan di Tengah Ketegangan Regional di Iran

Penunjukan Mojtaba Khamenei terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei telah memperuncing konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Sejumlah analis menilai, jika benar terpilih, Mojtaba akan menghadapi tantangan besar:

  • Mengelola stabilitas internal di tengah tekanan ekonomi dan politik,
  • Menjaga soliditas elite militer dan ulama,
  • Menentukan arah kebijakan luar negeri Iran dalam situasi konflik terbuka.

Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa penunjukan langsung putra dari pemimpin sebelumnya dapat memicu kritik mengenai legitimasi dan memperkuat anggapan adanya pola dinasti dalam sistem teokrasi Iran.

Hingga kini, dunia internasional masih menunggu konfirmasi resmi dari pemerintah Teheran. Namun jika laporan tersebut benar, maka terpilihnya Mojtaba Khamenei akan menjadi salah satu momen paling menentukan dalam sejarah politik modern Iran.

Publisher/Penulis:

[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]