Siapa Ayatollah Ali Khamenei? Pimpinan Tertinggi Iran yang Gugur Atas Serangan Gabungan AS dan Israel.

Profil Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran asal Mashhad, tewas akibat serangan gabungan AS-Israel dan warisannya di panggung geopolitik.

(Ilustrasi Suasana aksi massa di Iran membawa potret Ayatollah Ali Khamenei)
PortalJatim24.com - Berita Terkini - Kabar duka sekaligus mengejutkan datang dari Iran. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi tewas dalam serangan udara gabungan yang dilancarkan Israel dan Amerika Serikat pada Sabtu (28/2/2026). Ia meninggal dunia pada usia 86 tahun, menandai salah satu momen paling dramatis dalam sejarah modern Republik Islam sejak Revolusi 1979.

Media pemerintah Iran menyatakan Khamenei gugur dalam serangan yang menghantam kompleks kediamannya. Pernyataan tersebut diperkuat oleh pengumuman Presiden AS Donald Trump yang menyebut operasi militer tersebut sebagai bagian dari “operasi tempur besar” terhadap Iran

Peristiwa ini tidak hanya mengguncang stabilitas domestik Iran, tetapi juga membuka babak baru ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Baca Berita Lainnya: Tragedi di Kampus UIN Suska Riau:Rektorat dan Polisi Bertindak Tegas,Pelaku Diduga Sudah Merencanakan Aksi

Kronologi Serangan dan Konfirmasi Kematian Khamenei

Serangan terjadi pada Sabtu pagi waktu setempat. Kompleks kediaman Khamenei dilaporkan menjadi target utama. Kantor berita pemerintah Iran menyebut pemimpin tertinggi tersebut gugur sebagai “martir” dalam serangan gabungan Amerika dan Israel.

Trump dalam pidatonya menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan menekan kepemimpinan Iran dan membuka peluang perubahan rezim di Teheran. Ia bahkan menyebut momen tersebut sebagai “kesempatan bagi rakyat Iran untuk mengambil alih masa depan mereka.”

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer setelah konflik terbuka antara Iran dan Israel selama hampir dua pekan sebelumnya, termasuk serangan balasan rudal Iran ke Tel Aviv dan pengeboman fasilitas nuklir Iran oleh AS.

Siapa Ayatollah Ali Khamenei?

Khamenei memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam 1979. Selama 37 tahun kepemimpinannya, ia membentuk arsitektur politik, militer, dan ideologis Iran modern.

Lahir di Mashhad pada 1939, Khamenei menempuh pendidikan agama di Najaf dan Qom. Ia dikenal sebagai ulama sekaligus politisi yang berpengaruh. Sebelum menjadi pemimpin tertinggi, ia menjabat presiden Iran pada 1980-an, di masa perang Iran-Irak.

Sebagai pemimpin tertinggi, Khamenei memperkuat peran Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai pilar utama pertahanan dan pengaruh regional Iran. IRGC berkembang dari pasukan paramiliter menjadi institusi keamanan, ekonomi, dan politik yang dominan.

Baca Juga: Kemenag Tepis Isu Zakat untuk MBG, Menag Tegaskan Hanya untuk Delapan Asnaf Sesuai QS At-Taubah 60

Ideologi dan Strategi Kepemimpinan Khamenei

Khamenei dikenal dengan konsep “ekonomi perlawanan”  strategi untuk memperkuat kemandirian nasional di tengah sanksi Barat. Ia memandang Amerika Serikat sebagai kekuatan yang secara inheren bermusuhan terhadap Iran.

Dalam kebijakan luar negeri, ia membangun jaringan “poros perlawanan” yang mencakup kelompok-kelompok sekutu Iran di Lebanon, Suriah, Irak, Palestina, dan Yaman. Strategi ini dirancang sebagai “pertahanan ke depan” guna mencegah ancaman langsung ke wilayah Iran.

Meski kerap bersikap keras, Khamenei juga menunjukkan pragmatisme. Pada 2015, ia memberi lampu hijau bagi kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Namun, keputusan Trump menarik AS dari perjanjian itu pada 2018 kembali memperburuk hubungan kedua negara.

Dampak Politik dan Risiko Ketidakstabilan

Kematian Khamenei terjadi saat Iran berada dalam tekanan berat: sanksi ekonomi, inflasi tinggi, serta gelombang protes nasional yang memuncak dalam beberapa tahun terakhir.

Para analis menilai kematian Khamenei bisa memicu:

  • Perebutan kekuasaan internal
  • Dominasi lebih kuat oleh faksi garis keras IRGC
  • Risiko perang saudara
  • Eskalasi konflik regional

Sejumlah pakar menilai sistem Velayat-e Faqih tidak bergantung pada satu individu semata. Struktur kekuasaan yang kuat dan jaringan IRGC diperkirakan tetap mampu mempertahankan rezim dalam jangka pendek.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Serangan balasan Iran terhadap target sekutu AS di kawasan Teluk serta meningkatnya pengerahan militer Amerika di Timur Tengah memperbesar risiko konflik berkepanjangan.

Reaksi Internasional dan Kritik di AS

Di dalam negeri Amerika Serikat, langkah Trump menuai kritik. Beberapa senator menilai keputusan tersebut berpotensi menyeret AS ke perang besar tanpa otorisasi Kongres.

Sementara itu, di kawasan Timur Tengah, negara-negara tetangga meningkatkan kewaspadaan keamanan. Analis memperingatkan bahwa konflik terbuka dapat mengganggu stabilitas energi global dan jalur perdagangan internasional.

Baca Juga: DPR Soroti Tuntutan Hukuman Mati ABK di Kasus 2 Ton Sabu, Kuasa Hukum Bongkar Dugaan Modus Tukar Kapal

Masa Depan Iran Pasca-Khamenei Gugur

Transisi kepemimpinan di Iran kini menjadi sorotan dunia. Dewan ulama dan struktur elite politik kemungkinan akan bergerak cepat menentukan suksesor.

Namun pertanyaan besar tetap menggantung:

  • Apakah Iran akan semakin keras?
  • Apakah peluang reformasi terbuka?
  • Ataukah kawasan akan memasuki fase konflik baru yang lebih luas

Yang jelas, wafatnya Ayatollah Ali Khamenei bukan sekadar pergantian figur. Peristiwa ini berpotensi mengubah arah politik Iran dan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah untuk tahun-tahun mendatang.

Dunia kini menunggu bagaimana babak berikutnya akan ditulis.

Publisher/Penulis:

[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]