10 Analisis Kurikulum Merdeka Berdasarkan Pendekatan Pancasila Lengkap 2025
![]() |
(ilustrasi 3D analisis Kurikulum Merdeka berbasis Pancasila 2025) |
Menurut Prof. Dr. H. M. Daryanto, M.Pd., pakar kurikulum Universitas Negeri Yogyakarta, “Kurikulum Merdeka yang berlandaskan Pancasila seharusnya menjadi jembatan antara pembelajaran akademik dan pembentukan karakter bangsa, bukan sekadar daftar materi yang harus diselesaikan.” Pendapat ini mempertegas bahwa pendidikan harus menjadi sarana membentuk manusia seutuhnya, bukan hanya penyalur pengetahuan.
Baca Artikel Lainnya: Special HUT RI Ke-80: Perbandingan Ideologi Dunia dengan Nilai-Nilai Ideologis Pancasila
Berikut 10 Analisis Kurikulum Merdeka Berdasarkan Pendekatan Pancasila
✅Integrasi Nilai Pancasila dalam Tujuan Pendidikan
Kurikulum Merdeka 2025 secara eksplisit menempatkan Profil Pelajar Pancasila sebagai arah pembelajaran. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk peserta didik yang beriman, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.
Contoh Implementasi:
Dalam pelajaran Matematika, guru menyajikan studi kasus perhitungan anggaran desa untuk pembangunan fasilitas umum, menanamkan nilai keadilan sosial.
Di Bahasa Indonesia, siswa diminta menulis esai tentang keberagaman budaya di Indonesia untuk menumbuhkan toleransi.
✅Fleksibilitas Kurikulum untuk Konteks Lokal
Kurikulum Merdeka memberi keleluasaan bagi sekolah untuk menyesuaikan materi dengan kebutuhan daerah. Pendekatan Pancasila memperkuat hal ini, sebab setiap daerah memiliki kearifan lokal yang bisa dijadikan sumber pembelajaran.
Menurut Dr. Ratna Sari, M.Ed. (pakar pendidikan karakter), “Integrasi kearifan lokal ke dalam pembelajaran adalah langkah strategis untuk menanamkan nilai persatuan dan identitas bangsa.”
✅Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Metode ini selaras dengan nilai gotong royong dan kerja sama yang terkandung dalam Pancasila. Siswa diajak bekerja sama memecahkan masalah nyata di masyarakat.
Contoh: Proyek membersihkan sungai bersama warga, yang menggabungkan mata pelajaran IPA (ekosistem), IPS (peran masyarakat), dan PPKn (nilai gotong royong).
✅Penilaian yang Menekankan Asesmen Formatif
Pendekatan Pancasila dalam penilaian mendorong penilaian yang lebih manusiawi dan berorientasi pada proses, bukan sekadar hasil akhir. Ini membantu mengurangi stres akademik dan mendorong motivasi belajar intrinsik.
✅Penguatan Pendidikan Karakter
Setiap guru menjadi teladan penerapan nilai Pancasila. Kurikulum Merdeka mengatur agar nilai-nilai ini tidak hanya disampaikan, tetapi dicontohkan dalam perilaku sehari-hari.
Contoh: Guru menegur dengan santun saat siswa melakukan kesalahan, sekaligus memberikan kesempatan memperbaiki diri.
✅Keterlibatan Komunitas dan Orang Tua
Kurikulum Merdeka mendorong kerja sama sekolah, orang tua, dan komunitas. Pendekatan Pancasila memandang pendidikan sebagai tanggung jawab bersama.
✅Inovasi Teknologi yang Berlandaskan Etika
Penggunaan teknologi harus diimbangi dengan etika digital yang mengacu pada nilai Pancasila, seperti menghargai privasi dan menghindari penyebaran hoaks.
✅Penguatan Literasi Kebangsaan
Materi literasi tidak hanya fokus pada keterampilan membaca, tetapi juga memahami sejarah, budaya, dan peran sebagai warga negara.
✅Pendidikan Inklusif
Pendekatan Pancasila mengakui kesetaraan hak semua peserta didik tanpa diskriminasi, sejalan dengan sila kedua.
✅Evaluasi Berkelanjutan
Kurikulum Merdeka berbasis Pancasila membutuhkan evaluasi rutin untuk memastikan tujuan pendidikan tercapai.
Baca Artikel Serupa: Special HUT RI Ke-80 Tahun: Kritik Sistem Demokrasi dan Maraknya Korupsi dalam Perspektif Norma Pancasila
Kritik Solutif terhadap Implementasi
Meski memiliki banyak keunggulan, penerapan Kurikulum Merdeka berdasarkan pendekatan Pancasila di lapangan masih menghadapi berbagai kendala. Berikut analisis kritik beserta solusi detailnya.
✔Tantangan Kompetensi Guru
Kritik: Tidak semua guru memahami secara mendalam konsep Kurikulum Merdeka dan penerapan nilai Pancasila dalam pembelajaran.
Solusi:
-Menyelenggarakan pelatihan berkelanjutan yang fokus pada integrasi nilai Pancasila dalam RPP dan pembelajaran tematik.
-Memberikan buku panduan praktis dengan contoh penerapan nyata di kelas.
Menurut Dr. Lina Wulandari, M.Pd., “Pelatihan yang sifatnya hanya sekali tidak cukup. Dibutuhkan pembinaan berkelanjutan dan forum diskusi antar guru.”
✔Kesenjangan Fasilitas antar Sekolah
Kritik: Sekolah di daerah tertinggal sulit menerapkan pembelajaran berbasis proyek karena keterbatasan fasilitas.
Solusi:
-Mendorong kemitraan sekolah dengan dunia usaha dan LSM untuk mendukung proyek pembelajaran.
-Mengoptimalkan sumber daya lokal seperti kebun sekolah, pasar tradisional, atau rumah adat sebagai media belajar.
✔Penilaian yang Masih Kaku
Kritik: Beberapa sekolah masih fokus pada ujian tertulis, mengabaikan penilaian proses.
Solusi:
-Mengembangkan rubrik penilaian kinerja yang menilai kerja sama, kreativitas, dan refleksi diri siswa.
-Mendorong penggunaan portofolio digital sebagai dokumentasi capaian belajar.
✔Minimnya Keterlibatan Orang Tua
Kritik: Orang tua sering menyerahkan sepenuhnya pendidikan pada sekolah.
Solusi:
-Mengadakan kelas parenting yang mengenalkan konsep Kurikulum Merdeka berbasis Pancasila.
-Mengundang orang tua menjadi narasumber atau fasilitator pada proyek tertentu.
✔Integrasi Teknologi yang Tidak Merata
Kritik: Tidak semua guru mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif dan sesuai etika.
Solusi:
-Menyediakan pelatihan literasi digital berbasis nilai Pancasila.
-Mendorong pembuatan konten lokal yang relevan dengan karakter siswa.
✔Risiko “Formalitas Nilai”
Kritik: Ada sekolah yang hanya menjadikan nilai Pancasila sebagai slogan tanpa implementasi nyata.
Solusi:
-Melakukan observasi langsung dan supervisi pembelajaran oleh pengawas sekolah.
-Memberikan penghargaan tahunan bagi sekolah yang konsisten mengintegrasikan nilai Pancasila secara nyata.
Kesimpulan
Kurikulum Merdeka berdasarkan pendekatan Pancasila adalah langkah strategis membentuk generasi Indonesia yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan global. Namun, kesuksesannya membutuhkan pemahaman mendalam, dukungan fasilitas, inovasi guru, dan keterlibatan seluruh ekosistem pendidikan. Implementasi yang konsisten dan evaluasi berkelanjutan menjadi kunci keberhasilan.
Baca Juga: Refleksi Nilai-Nilai Pancasila dalam Kondisi Sistem Hukum Nasional 2025
Publisher/Penulis:[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]
Daftar Referensi
Daryanto, M. (2024). Penguatan Nilai Pancasila dalam Kurikulum Nasional. Yogyakarta: UNY Press.
Sari, R. (2023). Pendidikan Karakter Berbasis Kearifan Lokal. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wulandari, L. (2025). Strategi Pelatihan Guru untuk Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Pustaka Edu.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI. (2025). Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek.