Bedah Kritik Logika Mistika dalam Buku Madilog Tan Malaka

Bedah kritik logika mistika dalam buku Madilog Tan Malaka, mengulas materialisme, dialektika, dan relevansinya bagi masyarakat Indonesia.

(Ilustrasi 3D Tan Malaka memegang buku Madilog dengan gambaran kritik logika mistika)
PortalJatim24.com - Opini - Madilog karya Tan Malaka bukan sekadar buku filsafat, melainkan usaha sadar untuk menghancurkan fondasi cara berpikir mistis yang menurutnya menjadi penghambat terbesar kemajuan bangsa Indonesia. Buku ini ditulis bukan untuk menyenangkan pembaca, melainkan untuk mengguncang kesadaran.

Tan Malaka menulis dengan nada keras karena ia melihat bahwa kelembutan bahasa sering kali gagal membangunkan bangsa yang tertidur dalam takhayul.

Bagi Tan Malaka, penjajahan tidak akan runtuh hanya dengan pengusiran penjajah, selama logika penjajahan masih hidup di dalam kepala rakyat. Logika mistika yakni cara berpikir yang menggantikan sebab-akibat rasional dengan takdir, mitos, dan kekuatan gaib dipandang sebagai musuh utama pembebasan.

“Penjajahan yang paling sulit dihapus adalah penjajahan pikiran.”

- Madilog

Baca Artikel Lainnya:  10 Cara Lengkap Membuat Program CRUD Sederhana untuk Tugas Pemrograman

✅Logika Mistika sebagai Akar Kemandekan Berpikir

✔Mistika sebagai Penolakan terhadap Sebab-Akibat

Tan Malaka menjelaskan bahwa logika mistika bekerja dengan memutus hubungan sebab dan akibat. Ketika suatu peristiwa terjadi kemiskinan, penyakit, kegagalan penjelasan tidak dicari pada faktor material, melainkan pada kekuatan di luar nalar manusia.

Dalam pola ini, pertanyaan “mengapa” dianggap berbahaya, bahkan durhaka. Padahal bagi Tan Malaka, justru pertanyaan “mengapa” adalah pangkal semua pengetahuan.

“Mistika melarang manusia mencari sebab, karena sebab akan membawa manusia pada kebenaran.”

- Madilog

Akibatnya, masyarakat tidak belajar memperbaiki kondisi, tetapi hanya belajar menerima penderitaan.

✔Perbedaan Mistika dan Spiritualitas

Tan Malaka menegaskan bahwa kritiknya bukan pada iman, melainkan pada cara berpikir irasional. Spiritualitas yang sehat tidak menolak logika, sementara mistika menjadikan logika sebagai ancaman.

Mistika, menurut Tan Malaka, berubah menjadi berbahaya ketika:

- Dipakai menjelaskan masalah sosial

- Digunakan untuk membenarkan ketimpangan

- Dijadikan alat pembungkam kritik

Dalam kondisi ini, mistika bukan lagi wilayah personal, melainkan ideologi penindasan.

✔Logika Mistika dan Budaya Takut

Logika mistika memelihara ketakutan: takut bertanya, takut berbeda, takut melawan. Tan Malaka melihat ketakutan ini sebagai hasil pendidikan dan tradisi yang mematikan keberanian intelektual.

“Bangsa yang takut berpikir akan selalu mencari pelindung, bukan kebenaran.”

- Madilog

✅Ilustrasi dan Analogi Kritik Tan Malaka terhadap Mistika

✔Analogi Rumah Roboh

Tan Malaka mengilustrasikan masyarakat mistis seperti penghuni rumah rapuh yang roboh karena fondasi keropos. Alih-alih memperbaiki struktur, penghuni rumah justru sibuk mencari “penyebab gaib”.

- Retak dinding → dianggap gangguan makhluk halus

- Atap bocor → dianggap pertanda buruk

- Rumah roboh → dianggap takdir

“Selama sebab dicari di alam gaib, kerusakan nyata akan terus berulang.”

- Madilog

Analogi ini menunjukkan bagaimana mistika mengalihkan perhatian dari solusi konkret.

Baca Juga:  10 Cara Lengkap Menghindari Penalti Point Shopee untuk Penjual Baru

✔Analogi Petani dan Gagal Panen

Dalam masyarakat agraris, Tan Malaka melihat kegagalan panen sering dijelaskan secara mistis. Padahal faktor seperti pupuk, air, dan kebijakan jauh lebih menentukan.

Mistika membuat petani:

- Menyalahkan dirinya sendiri

- Takut menuntut perubahan

- Pasrah pada sistem yang merugikan

Tan Malaka menyebut ini sebagai kesalahan berpikir yang dipelihara secara turun-temurun.

✔Analogi Rakyat dan Penguasa

Tan Malaka juga mengkritik mitos tentang penguasa sebagai figur sakral. Dalam logika mistika, penguasa tidak boleh salah, tidak boleh dikritik.

“Kekuasaan yang diselimuti mistika akan selalu kebal dari pertanggungjawaban.”

- Madilog

✅Takhayul sebagai Instrumen Kekuasaan

✔Takhayul dalam Feodalisme

Dalam sistem feodal, raja dianggap wakil kekuatan supranatural. Tan Malaka melihat ini sebagai strategi politik, bukan kebetulan budaya.

Takhayul membuat rakyat:

- Tunduk tanpa pertanyaan

- Menganggap hierarki sebagai kodrat

- Menyalahkan diri sendiri atas penderitaan

✔Kolonialisme dan Pelestarian Mistika

Penjajah, menurut Tan Malaka, tidak menghancurkan mistika, justru memeliharanya. Masyarakat yang mistis lebih mudah dikendalikan daripada masyarakat rasional.

“Penjajah tidak takut pada senjata, tetapi takut pada pikiran yang teratur.”

- Madilog

✔Elite Lokal sebagai Pewaris Mistika

Tan Malaka juga mengkritik elite pribumi yang menggantikan penjajah tetapi mempertahankan cara berpikir lama. Mistika tetap dipelihara karena menguntungkan kekuasaan.

✅Materialisme sebagai Dasar Kritik Logika Mistika

✔Realitas Material sebagai Penentu Kesadaran

Tan Malaka menegaskan bahwa pikiran manusia dibentuk oleh kondisi hidupnya. Kelaparan, kemiskinan, dan ketimpangan bukan hasil kutukan, melainkan struktur ekonomi.

“Perut yang lapar tidak akan melahirkan filsafat yang jujur.”

- Madilog

Materialisme mengembalikan analisis pada dunia nyata.

✔Menolak Penjelasan Gaib atas Masalah Sosial

Dengan materialisme, Tan Malaka menolak:

- Kemiskinan sebagai nasib

- Penyakit sebagai hukuman

- Kebodohan sebagai kodrat

Semua memiliki sebab konkret yang bisa dipelajari dan diubah.

✔Materialisme dan Keberanian Bertindak

Berpikir materialis berarti berani menyimpulkan bahwa manusia bisa mengubah nasibnya sendiri, bukan menunggu mukjizat.

✅Dialektika Melawan Cara Pikir Statis Mistika

✔Dunia Selalu Bergerak

Mistika memandang dunia sebagai sesuatu yang tetap. Dialektika melihat dunia sebagai proses.

“Tidak ada keadaan abadi, kecuali perubahan.”

- Madilog

✔Pertentangan sebagai Sumber Kemajuan

Tan Malaka menganggap konflik sebagai bagian alami dari kemajuan. Mistika justru mematikan konflik dengan dalih harmoni palsu.

✔Dialektika dan Kesadaran Kritis

Dengan dialektika, masyarakat diajak memahami bahwa ketimpangan bukan kesalahan individu, melainkan hasil pertentangan sosial.

✅Logika sebagai Senjata Pembebasan

✔Logika untuk Rakyat, Bukan Elit

Tan Malaka menolak logika yang hanya hidup di buku. Logika harus dipakai dalam kehidupan sehari-hari.

“Logika yang tidak dipakai rakyat hanyalah mainan intelektual.”

- Madilog

Baca Juga:  Panduan Dasar Memahami Konsep Data Mining untuk Mahasiswa Baru

✔Logika Melawan Tipu Daya

Logika membantu rakyat membedakan:

- Fakta dan mitos

- Janji dan kebohongan

- Otoritas dan kebenaran

✔Logika dan Keberanian Moral

Berpikir logis menuntut keberanian, karena kebenaran sering tidak nyaman bagi penguasa.

✅Relevansi Kritik Logika Mistika di Indonesia Hari Ini

✔Hoaks sebagai Mistika Modern

Hoaks bekerja seperti mistika: menolak verifikasi dan bermain emosi.

✔Politik Identitas dan Kultus Tokoh

Tan Malaka akan melihat politik hari ini sebagai bukti bahwa mistika belum mati, hanya berganti kostum.

✔Pendidikan dan Tantangan Logika

Pendidikan yang menekankan hafalan tanpa berpikir kritis masih melanggengkan masalah yang sama yang dikritik Tan Malaka.

Kesimpulan: Menuntaskan Kritik Logika Mistika dalam Madilog

Kritik logika mistika adalah inti dari seluruh proyek Madilog. Tanpa menghancurkan cara berpikir mistis, materialisme, dialektika, dan logika tidak akan berfungsi.

Tan Malaka tidak sekadar ingin rakyat tahu, tetapi berani berpikir dan bertindak.

“Kemerdekaan sejati dimulai dari keberanian berpikir dengan logika.”

- Madilog

Publisher/Penulis:

[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)] 

Daftar Rujukan

Tan Malaka - Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika

Tan Malaka - Dari Penjara ke Penjara

Tan Malaka - Naar de Republiek Indonesia