Keracunan MBG Sidoarjo: 566 Orang Terdampak, SPPG Disuspend, Penyebab Menunggu Hasil Lab

Sebanyak 566 orang diduga keracunan MBG di Sidoarjo. Dinkes menangani korban di sejumlah rumah sakit.

(Ilustrasi: Keracunan MBG Sidoarjo, 566 orang terdampak dan SPPG disuspend)

PortalJatim24.com - Sidoarjo Kasus dugaan keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Jumlah korban dalam kejadian yang berlangsung pada Selasa (1/9/2026) tersebut terus bertambah dan mencapai 566 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan angka tersebut merupakan pembaruan dari data sebelumnya setelah ditemukan tambahan kasus baru.

“531 ditambah 35. Kurang lebih 566 ya,” kata Lakhsmie di Sidoarjo.

Mayoritas korban merupakan santri dan santriwati Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Namun, dugaan keracunan tersebut juga berdampak terhadap siswa dari 19 lembaga pendidikan di sekitar wilayah Tanggulangin yang menerima makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Baca Berita, Informasi, Edukasi Lainnya di Sini

BGN Sebelumnya Catat 512 Orang Terdampak

Sebelum data terbaru dari Dinas Kesehatan Sidoarjo muncul, Badan Gizi Nasional (BGN) menyebut sebanyak 512 orang terpapar atau terdampak dugaan keracunan.

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN Ketut Sumedana mengatakan angka tersebut berdasarkan hasil investigasi awal yang dilakukan di lapangan.

“Berdasarkan data yang kami terima dari teman-teman yang sudah melakukan investigasi di lapangan, total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang,” kata Ketut, Rabu (2/9/2026).

Dari data BGN tersebut, sebanyak 80 santri masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara 312 orang telah diperbolehkan pulang dan dinyatakan sembuh, sedangkan 120 lainnya masih menjalani observasi.

Adapun data terbaru Dinkes Sidoarjo kemudian mencatat total korban mencapai 566 orang. Sebanyak 88 orang masih menjalani rawat inap, sementara sekitar 470 korban yang kondisinya membaik telah diperbolehkan pulang.

Korban Mengalami Mual, Muntah dan Pusing

Lakhsmie menjelaskan, sebagian besar korban mengalami gejala berupa mual, muntah, dan pusing setelah mengonsumsi makanan MBG.

Menurutnya, kondisi korban yang masih menjalani rawat inap secara umum stabil. Para pasien tidak membutuhkan perawatan khusus dan masih mendapatkan penanganan medis biasa.

“Secara umum yang opname stabil. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sampai ke perawatan khusus,” ujar Lakhsmie.

Dinkes Sidoarjo juga memastikan pemulangan pasien dilakukan berdasarkan kondisi klinis masing-masing. Korban yang masih memiliki keluhan diminta tetap melakukan kontrol dan mengikuti anjuran medis.

Delapan Rumah Sakit Disiagakan Tangani Korban

Untuk menangani korban dalam jumlah besar, Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mengaktifkan status krisis kesehatan sejak kasus tersebut dilaporkan.

Penanganan kemudian dibagi menjadi dua jalur, yakni penanganan di lapangan dan pelayanan di rumah sakit. Sejumlah fasilitas kesehatan disiagakan untuk menerima korban yang membutuhkan perawatan.

Rumah sakit yang digunakan dalam penanganan antara lain RSUD RT Notopuro, RS Delta Surya, RS Siti Hajar, RS Pusura, RS Aisyiyah, RS Bhayangkara, RS Arafah Anwar, dan RS Assakinah Medika.

Dinkes Sidoarjo juga menyiagakan tenaga kesehatan, obat-obatan, serta sarana pendukung untuk mengantisipasi bertambahnya korban.

Menu MBG yang Dikonsumsi Santri

Sebelum munculnya gejala, para santri mengonsumsi menu MBG yang disiapkan oleh SPPG untuk distribusi pada Selasa (1/9/2026).

Pendamping SPPG di lokasi ponpes, Serka Andik, mengatakan menu yang dibagikan terdiri dari nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.

“Menu hari ini nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel,” kata Serka Andik di lokasi ponpes, Selasa (1/9/2026).

Makanan tersebut dikirim sekitar pukul 10.00 WIB dan biasanya mulai dibagikan kepada santri sekitar pukul 12.00 WIB.

Jumlah makanan yang dikirim diperkirakan mencapai sekitar 440 ompreng. Sebagian makanan dikonsumsi pada siang hari, sedangkan sebagian lainnya baru disantap pada sore hari karena para santri masih mengikuti kegiatan pembelajaran.

Gejala dugaan keracunan kemudian mulai dirasakan sejumlah santri menjelang waktu magrib.

SPPG Kalitengah Tanggulangin Disuspend

Pasca kejadian tersebut, operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin yang menjadi penyedia makanan MBG langsung dihentikan sementara.

Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo mengatakan pihaknya langsung bergerak ke lokasi setelah menerima laporan kejadian.

“Kami juga tadi sudah mendapatkan informasi langsung dan kami bergerak ke SPPG. Untuk saat ini, SPPG kita berhenti operasional,” kata Teguh, Rabu dini hari.

SPPG Kalitengah Tanggulangin diketahui memasok sekitar 2.800 porsi makanan per hari untuk sekolah dan pesantren. Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 porsi di antaranya diperuntukkan bagi santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam.

BGN pusat kemudian memberikan keputusan suspend sementara terhadap SPPG tersebut sembari menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.

BGN Investigasi dan Copot Kepala SPPG

BGN bersama Dinas Kesehatan terkait telah melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan massal tersebut.

Ketut Sumedana mengatakan SPPG Talang Angin atau SPPG Sidoarjo, Talang Angin, dikenai suspend kategori berat selama 30 hari.

Selain penghentian sementara operasional, BGN juga mengusulkan pencopotan kepala SPPG dan pergantian pengelola.

“Kami akan fokus dengan penyelamatan kesehatan anak-anak kita ini di beberapa rumah sakit,” ujar Ketut

Langkah tersebut dilakukan sembari menunggu hasil investigasi mengenai penyebab pasti kejadian.

Sampel Makanan dan Pasien Diuji Laboratorium

Dinas Kesehatan Sidoarjo telah mengambil sejumlah sampel untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan. Sampel tersebut meliputi muntahan pasien serta bahan makanan yang berasal dari SPPG penyedia menu MBG.

Sampel juga diambil untuk pemeriksaan oleh pihak terkait, termasuk kepolisian. Hasil pemeriksaan laboratorium diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

Lakhsmie menegaskan, selain mencari penyebab melalui uji laboratorium, evaluasi terhadap standar operasional prosedur (SOP) dapur SPPG menjadi bagian penting dalam penyelidikan.

Evaluasi akan mencakup proses sejak makanan diterima, pengolahan, distribusi, hingga makanan dikonsumsi oleh penerima manfaat. Pemeriksaan juga akan melibatkan berbagai unsur, termasuk Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Nasib Operasional SPPG Menunggu Hasil Evaluasi

Teguh Bayu Wibowo mengatakan keputusan mengenai masa penghentian operasional SPPG masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.

Menurutnya, BGN pusat akan menentukan apakah penghentian tersebut hanya bersifat sementara atau dapat berujung pada penghentian permanen.

“Sampai hasil evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah disuspennya suspen sementara atau suspen permanen,” ujar Teguh.

Sementara itu, prioritas pemerintah dan tenaga kesehatan saat ini adalah memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan hingga kondisi mereka benar-benar pulih.

Dengan jumlah korban yang mencapai 566 orang berdasarkan pembaruan Dinkes Sidoarjo, kasus dugaan keracunan MBG di Tanggulangin menjadi perhatian serius. Penyebab pasti kejadian masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan.


 Publisher/Editor:

[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]