Studi Penerapan Nilai Pancasila dalam Pengembangan Kecerdasan Buatan Terbaru 2025

Studi mendalam tentang bagaimana nilai-nilai Pancasila diterapkan dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia tahun 2025.

(Ilustrasi penerapan nilai Pancasila dalam pengembangan kecerdasan buatan tahun 2025)
PortalJatim24.com - Pendidikan - Pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah menjadi arus utama dalam inovasi teknologi global. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan AI, muncul kekhawatiran mengenai nilai-nilai dasar yang memandu penggunaannya. Di Indonesia, Pancasila sebagai dasar negara menawarkan panduan etis dan moral yang dapat menjadi landasan dalam pengembangan teknologi, termasuk AI.

 Artikel ini membahas bagaimana studi penerapan nilai Pancasila dapat memberikan arah yang humanis dan berkeadilan dalam membangun AI yang beradab.

Baca Juga: Pendekatan Sosiologi Kritis untuk Memahami Penerapan Pancasila di Masyarakat Luas 2025

Apa Itu Penerapan Nilai Pancasila dalam Teknologi?

Penerapan nilai Pancasila dalam teknologi merujuk pada integrasi prinsip-prinsip Pancasila—Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial-ke dalam proses desain, pengembangan, dan penggunaan sistem kecerdasan buatan. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa teknologi tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.

Nilai Filosofis

Menurut Dr. Yudi Latif (pakar filsafat Pancasila), AI yang dikembangkan tanpa nilai-nilai bisa menjadi instrumen dominasi dan dehumanisasi. Ia menekankan pentingnya Pancasila sebagai alat untuk menghumanisasi teknologi.

Penerapan Nilai Ketuhanan dalam AI

Detail Implementasi

Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa menuntut agar AI tidak digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilai agama dan moral universal. Dalam pengembangan AI:

-Etika desain harus mempertimbangkan nilai spiritualitas.

-Sistem deteksi hoaks berbasis AI harus menghindari konten yang menyesatkan dan merusak moral publik.

Contoh: AI dalam filter konten media sosial di Indonesia diatur untuk memblokir konten yang melanggar norma agama dan kesopanan.

Relevansi Global

Nilai religius juga diterapkan di negara lain, seperti Arab Saudi yang memprogram AI sesuai prinsip Syariah. Indonesia bisa mengambil pendekatan serupa namun berbasis nilai Ketuhanan universal dalam Pancasila.

Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab dalam AI

Perlindungan Hak Asasi

AI harus menjunjung tinggi hak asasi manusia. Dalam konteks Indonesia:

-Penggunaan AI dalam surveillance publik harus tetap menjaga privasi individu.

-Aplikasi AI di bidang kesehatan tidak boleh diskriminatif terhadap minoritas atau kelompok tertentu.

Studi Kasus

Aplikasi AI pada sistem seleksi kerja yang dinilai bias gender dan etnis harus dikaji ulang dan disesuaikan dengan prinsip kemanusiaan.

Menurut Ahli

Dr. Eko Prasojo, Guru Besar Administrasi UI, menyebut bahwa AI harus “berpihak pada martabat manusia, bukan sekadar efisiensi.”

Persatuan Indonesia dan AI Multibudaya

Konten Multikultural

Salah satu tantangan AI adalah menjaga keberagaman. Algoritma harus:

-Mempromosikan bahasa daerah dan budaya lokal.

-Tidak menampilkan bias hanya terhadap budaya dominan.

Contoh: Aplikasi edukasi berbasis AI yang tersedia dalam berbagai bahasa daerah.

Teknologi sebagai Pemersatu

Proyek AI seperti Satu Data Indonesia menunjukkan bahwa teknologi bisa menyatukan informasi nasional dari berbagai kementerian, menciptakan sinergi dalam pembangunan.

Baca Juga: Kajian Filsafat Pancasila Sebagai Sistem Nilai dalam Tatanan Sosial Modern 2025

Kerakyatan dalam Sistem AI: Demokratisasi Teknologi

Keterlibatan Publik

Nilai kerakyatan dalam AI mengharuskan adanya:

-Partisipasi publik dalam regulasi penggunaan AI.

-Keterbukaan data dan algoritma agar masyarakat bisa mengkritisi keputusan AI.

-Pelibatan komunitas dalam pengembangan AI lokal, seperti chatbot pelayanan desa.

Solusi Teknologi Inklusif

-Pemerintah dapat menyediakan platform pengaduan digital berbasis AI yang adil dan responsif.

-Pelibatan masyarakat sipil sebagai pengawas teknologi AI melalui forum digital nasional.

Keadilan Sosial dan AI

Akses dan Distribusi Merata

Pengembangan AI harus menghindari kesenjangan digital:

-Pemerataan akses teknologi ke daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar).

-Pelatihan AI untuk UMKM agar mereka bisa bersaing di era digital.

-Skema subsidi AI-as-a-Service untuk petani atau nelayan berbasis kebutuhan lokal.

Studi Kasus Tambahan

Startup AI berbasis Pancasila seperti Widya Robotics menciptakan teknologi pertanian yang membantu petani kecil tanpa menggeser peran manusia.

Tantangan dan Solusi Implementasi

Tantangan

-Belum adanya kerangka hukum yang spesifik mengatur AI berlandaskan Pancasila.

-Kurangnya SDM yang memahami nilai etika teknologi dan filsafat kebangsaan.

-Masuknya pengaruh teknologi asing yang tidak sesuai nilai lokal.

Solusi

-Membuat Etika AI Nasional berlandaskan Pancasila.

-Menyisipkan kurikulum etika digital berbasis Pancasila di perguruan tinggi.

-Membangun pusat riset AI humanis di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kesimpulan: Pentingnya Pancasila dalam Memandu Masa Depan AI

Pengembangan kecerdasan buatan tidak boleh melulu berorientasi pada efisiensi atau keuntungan ekonomi semata. Pancasila sebagai dasar negara memberikan kerangka etik dan moral yang kuat dalam menghadirkan AI yang adil, inklusif, dan humanis. Studi penerapan nilai Pancasila dalam pengembangan kecerdasan buatan 2025 menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap berpihak pada manusia dan bangsa.

Baca Juga: Panduan Lengkap Memahami Pancasila Sebagai Weltanschauung Untuk Generasi Bangsa

Publisher/Penulis:[Tim Redaksi portaljatim24.com (AZAA/KK)]

Daftar Referensi

1. Latif, Yudi. (2020). Pancasila: Rumah Kita Semua. Penerbit Kompas.

2. Prasojo, Eko. (2021). Etika dan Teknologi di Era Digital. UI Press.

3. Widya Robotics. (2024). [www.widyarobotics.com](http://www.widyarobotics.com)

4. Kementerian Kominfo RI. (2023). Etika Penggunaan AI di Indonesia.

5. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). (2024). Laporan AI Humanistik.